Inilah yang terjadi pada otak anak jika sering menonton tayangan pendek, menurut dokter

Jakarta

Di era sekarang ini, anak-anak sudah sangat akrab dengan gadget dalam kesehariannya, setuju kan ya Bunda? Bahkan, gadget kini seolah menjadi bagian dari ‘teman bermain’ mereka.

Hal serupa juga disampaikan oleh Dokter Spesialis Anak, Konsultan Tumbuh Kembang Sosial Anak, Dr. Bernie Endyarni Medise, Sp.A, Subsp.TKPS(K), MPH. Dijelaskannya, anak-anak masa kini termasuk di dalamnya penduduk asli digital atau generasi yang tumbuh di era digital.

“Di zaman sekarang ini, anak-anak kita mengatakannya penduduk asli digital. Nah, mereka terlahir sudah punya gadget seperti itu kan? Menurut saya gadget ini seperti pedang bermata dua. “Ada sisi yang kita perlukan juga, terutama anak-anak yang sudah besar yang kini harus memegang gadget untuk segala hal, misalnya saja untuk belajar,” kata dr Bernie, dikutip dari kanal YouTube. @IDAITV2020.

IKLAN

GULIR UNTUK MELANJUTKAN ISI

Menurut Dr Bernie, gadget memang memiliki manfaat, khususnya bagi anak yang lebih besar, dalam menunjang aktivitas belajar. Namun di sisi lain, ada juga risiko yang perlu diwaspadai para ibu.

“Jadi di satu sisi gadget-gadget ini ada manfaatnya bagi anak yang lebih besar. Sisi bahayanya terutama di masa awal kehidupan anak. Kalau kita terlalu cepat memberikan gadget padahal ini masa perkembangan otak yang sangat pesat,” jelasnya.

Berbicara mengenai hal tersebut, anak-anak kini semakin banyak menonton tayangan atau konten berdurasi singkat pendek video. Meski hanya berlangsung sebentar, kebiasaan ini ternyata bisa berdampak pada perkembangan otaknya lho.

Dokter Bernie menjelaskan kesan itu pendek itu sengaja dibuat untuk menarik perhatian. Konten seperti ini dibuat untuk menarik minat penonton dengan cepat sejak detik pertama.

“Sebenarnya dengan memberikan kita gadget, apalagi saat ini kita banyak menonton acara-acara yang bersifat short atau pendek pendek. Jadi, pendek itu dibuat menjadi menarik, sesuatu yang itu menarik perhatian atau membuat siapapun yang melihatnya ingin melihatnya, itu yang pertama,” kata dr Bernie.

Kebiasaan ini membuat anak terus melakukannya bergulir atau menelusuri konten tanpa benar-benar memahami isi konten tersebut. Hasilnya, mereka hanya menangkap bagian yang paling menarik saja.

“Nah, bahayanya apa? Jadi kalau kita lihat ke anak bergulir melanjutkan, bergulir Terus berlanjut. “Jadi dia hanya memahami bagian luarnya, tidak memahami bagian dalamnya,” ujarnya.

Menurut dr Bernie, kondisi ini bisa memicu adiksi atau ketergantungan anak terhadap gadget. Anak menjadi terbiasa mencari rangsangan cepat yang membuatnya tetap ingin melihat konten selanjutnya.

“Biasanya yang diambil hanya yang benar-benar menarik. Ujung-ujungnya menimbulkan bagian otak yang bisa menimbulkan kecanduan,” ujarnya.

Selain itu, kemampuan perhatian atau fokus anak juga ikut terpengaruh ya, Bunda. Mereka juga menjadi lebih terbiasa dengan konten bertempo cepat.

“Lalu yang disebut Perhatian atau perhatian. Di kehidupan nyata kita melihat orang berjalan lambat, tapi di media sosial mereka sangat cepat. Terkadang videonya juga dipercepat. “Akhirnya perhatiannya memendek,” tegas Dr. Bernie.

Namun, orang tua tidak perlu terlalu khawatir jika bisa mengelolanya dengan baik. Menurut dr Bernie, dengan aktivitas yang tepat, lambat laun si kecil bisa beradaptasi kembali.

“Oleh karena itu, orang tua tidak perlu khawatir. Kita bisa hentikan, pasti akan terjadi reaksi rewel. Pengalaman saya sudah satu atau dua minggu, asal kita alihkan, segera berikan kegiatan lain, mana saja yang lebih menarik,” jelas dr Bernie.




Ilustrasi Anak Bermain Gadget/Foto: Getty Images/iStockphoto/nathaphat

Aturan penggunaan gadget pada anak kini terus beradaptasi dengan perkembangan zaman ya, Bunda. Dokter Bernie menjelaskan, pedoman dari American Academy of Pediatrics (AAP) menjadi salah satu acuan penggunaan gadget pada anak.

“Mirip AAP ya. Dulu tahun 2016 sebenarnya tidak boleh pakai gadget untuk umur di bawah 18 bulan. panggilan video dari orang tuanya, karena panggilan video ini masih jalan dua arah,” katanya.

Pada aturan sebelumnya, durasi penggunaan gadget juga dibatasi secara ketat bagi anak-anak. Namun seiring berjalannya waktu, terjadi penyesuaian yang lebih fokus pada kualitas konten dan pendampingan orang tua.

Memang kalau di tahun 2025 nanti agak berbeda. Kata AAP, yang paling penting adalah hati-hati dengan kontennya, bantuan apa yang didapat dari orang tua, jelasnya.

Untuk anak kecil, gunakan pembatasan Gawai Hal ini perlu dilakukan agar pertumbuhan dan perkembangan tetap optimal. Di usia ini, peran Ibu dan Ayah sangat penting dalam memberikan arahan yang jelas.

“Yang di bawah 5 tahun juga harus kita ajari ya, memang harus kita batasi. Jadi, mungkin orang tua bisa bilang, ‘Oh, ini oke, ini tidak’,” kata dr Bernie.

“Tapi, kadang anak juga tidak tahu. Mungkin yang paling tepat adalah orang tua memberikan perlindungan. Jadi, ada yang bisa diakses oleh anak, ada yang tidak bisa diakses oleh anak,” lanjutnya.

Untuk anak yang lebih besar, pendekatan yang digunakan dapat berupa kesepakatan dengan ibu. Selain itu, mereka juga mempunyai kebutuhan untuk belajar di sekolah.

“Terus kalau sudah besar tentu kita bisa buat kesepakatan ya? Kalau anak sudah besar juga harus bersekolah. Jadi mungkin oke, barulah mereka bisa menyimpan ponselnya untuk keperluan sekolah,” saran dr Bernie.

Setelah itu, anak masih mempunyai waktu luang untuk berkomunikasi atau mencari hiburan. Namun tetap perlu adanya batasan dan pendampingan dari orang tua.

“Setelah itu ada waktu luang ya, ada waktu yang dia gunakan untuk apapun yang dia mau mengobrol bersama teman atau sekedar mencari hiburan. Namun masih terbatas dan yang penting bantuan,” tutupnya.

Itulah penjelasan mengenai dampak yang dapat terjadi pada otak anak jika sering menonton tayangan pendek menurut dokter.

Bagi ibu-ibu yang menginginkannya membagikan pertanyaan mengasuh anak dan Anda bisa mendapatkan banyak memberi secara gratisya bergabung Komunitas Pasukan HaiBunda. Daftar klik DI SINI. Bebas!

(ndf/untuk)

PakarPBN

A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.

In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.

The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.

Jasa Backlink

Download Anime Batch